APA, bocah 6 tahun tewas di tangan tetangganya sendiri. Pelaku pembunuhan itu berinisial NF yang masih berusia 15 tahun.

Kasus tersebut mencengangkan dan menjadi sorotan sebab pelaku masih di bawah umur namun melakukan sesuatu yang begitu sadis.
Mengapa NF tega membunuh APA?
Psikolog forensik, Reza Indradiri menjelaskan ada dua faktor yang diduga menjadi penyebab munculnya perilaku sadis dalam diri NF.
Faktor tersebut adalah faktor dalam dan lingkungan.
Menurut Reza, faktor dalam yang dimaksud adalah genetik sedangkan faktor lingkungan adalah macam-macam hal yang terjadi di sekitar NF dan mempengaruhi perilakunya.
Perilaku manusia, kata Reza, merupakan hasil interaksi kedua faktor tersebut.
"Faktor pertama adalah faktor dalam, kita bicara genetik, faktor disposisi, faktor otak dan lainnya," kata Reza, dikutip TribunJabar.id dari video yang diunggah KompasTV.
Pelaku tega melakukan pembunuhan diduga karena sulit merasakan empati.
Salah satu penyebabnya adalah bagian otak yang tidak normal.
Anak-anak yang tidak memiliki empati disebut callous unemotional atau pada orang dewasa disebut psikopat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Novianto, dan Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Susatyo saat menyampaikan keterangan ungkap kasus pembunuhan di Polres Metro Jakarta Pusat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Novianto, dan Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Susatyo saat menyampaikan keterangan ungkap kasus pembunuhan di Polres Metro Jakarta Pusat. (Wartakotalive/Joko Supriyanto)
Kerja otak mereka berbeda karena ada bagian yang tidak normal.
"Orang yang memiliki perilaku yang amat sadis dan kejam seperti ini memiliki bagian otak tertentu yang tidak bekerja secara normal."
"Hal itu membuat nyaris tidak memiliki empati atau mungkin tidak ada ketidakmampuan empati itulah yang membuat munculnya perilaku jahat yang di luar batas kemanusian," ucap Reza.
Mereka tidak bisa merasakan kesakitan, kesedihan, ketakutan, dan perasaan teror dari korban.
Selain faktor dalam ada pula faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku seseorang.
Reza mengatakan pelaku diperkirakan mengalami perubahan perilaku karena tumbuh di lingkungan yang tidak harmonis.
"Pemberitaan media mengabarkan bahwa orangtua pelaku sudah bercerai, keluarga yang kurang harmonis mungkin saja kemudian memunculkan pola asuh yang tidak tepat sehingga anak menjalani proses tumbuh kembang yang tidak sehat atau tidak wajar," jelasnya.
Adapun perilaku pelaku juga dipengaruhi oleh apa yang ia lihat dan juga ia dengar.
Pelaku dikabarkan kerap menonton tayangan yang tidak sesuai dengan umurnya.
Berdasarkan teori, kata Reza, perilaku manusia terbentuk oleh proses peniruan.
Oleh sebab itu berbagai hal yang dirasakan oleh panca indera akan mempengaruhi tingkah laku manusia.
"Faktor lainnya, juga dari media, bahwa pelaku terinspirasi dari apa yang dia tonton."
"Film horor kah atau film untuk dewasa, masuk akal, apa yang kita tonton, apa yang kita dengar, apa yang kita baca bisa mempengaruhi kita."
"Dengan kata lain teori ini ingin mengatakan bahwa perilaku manusia sesungguhnya berasal dari proses peniruan, teori ini disebut teori belajar sosial," ucapnya.
Menurut Reza, kedua faktor tersebut perlu dipelajar dan diselidiki lebih dalam hingga dapat disimpulkan sebagai penyebab perilaku NF yang tidak seperti anak pada umumnya. (Tribun Jabar)
Kronologi Kejadian
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Heru Novianto mengatakan, kasus pembunuhan bocah berusia 6 tahun di Sawah Besar berawal dari pelaku NF (16) yang melaporkan diri ke polisi dan mengaku telah membunuh.
Atas kejadian itu, polisi pun langsung melakukan pengecakan dan mendapati korban APA (6) di dalam lemari dengan kondisi badan dan tangan terikat.
"Jadi dia melaporkan diri dan mengaku saya telah melakukan pembunuhan, lapornya di Polsek Metro Tamansari," kata Heru Novianto di lokasi kejadian, Jumat (6/3/2020).
Menurut Heru pelaku cukup tega melakukan aksi pembunuhan ini, sebab dari olah TKP dan keterangan pelaku, NF yang juga seorang remaja putri ini menghabisi bocah 6 tahun itu dengan menyelupkan kepala korban ke dalam air.
"Cara menghilangkan nyawanya yaitu dimasukan ke dalam bak. Jadi si anak di ajak ke kamar mandi kemudian disuruh mengambil mainan yang ada di dalam, lalu di tenggelamkan kepalanya," katanya.
Setelah korban lemas, diangkat begitu saja, kemungkinan korban tewas karena kehabisan oksigen, selanjutnya pelaku mengikatnya dan diletakan di dalam lemari.
"Awalnya mau dibuang karena sudah menjelang sore akhirnya disimpan di dalam lemari. Setelah disimpan dalam lemari. Besok paginya si tsk ini akan membuang tapi bagaimana caranya dia bingung," katanya.
Keesokan harinya, pelaku berusaha beraktivitas seperti biasa pergi ke sekolah, namun rupanya pelaku juga membawa baju pengganti di dalam tas, korban sempat bingung untuk membuang jasad korban.
Ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi pembunuhan ()
Seketika itu, pelaku pun akhirnya mengurungkan niatnya berangkat sekolah meski sudah berada di luar rumah, pelaku langsung menganti pakaian dan melaporkan diri jika telah melakukan pembunuhan ke Polsek Tamasari.
"Akhirnya dia berangkat ke sekolah pakai seragam. Tapi di tengah jalan dia tidak sekolah dan berganti pakaian yang sudah disiapkan dan pada saat itu dia melaporkan diri," paparnya.
Setelah laporan itu Polsek Metro Tamasari sempat mendatangi lokasi, namun karena lokasi berada di Jakarta Pusat akhirnya dilimpahkan ke Polsek Sawah Besar.
"Setelah dicek tkp ternyata ini wilayahnya sawah besar. Dari Polsek Metro Tamansari menghubungi Saber dan melakukan pengecekan diselidiki pak kapolsek dan benar di dalam lemari itu ada sosok mayat," ujarnya. (WartaKota)
Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Penjelasan Psikolog Mengenai Mengapa Remaja SMP Tega Membunuh Bocah 6 Tahun, Ada 2 Faktor Penyebab,
Editor: Yongky Yulius
Home » Unlabelled » Penjelasan Psikolog Mengenai Mengapa Remaja SMP Tega Membunuh Bocah 6 Tahun, Ada 2 Faktor Penyebab
Selasa, 10 Maret 2020
Penjelasan Psikolog Mengenai Mengapa Remaja SMP Tega Membunuh Bocah 6 Tahun, Ada 2 Faktor Penyebab
Tags :
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar